Selasa, 23 November 2010

makanan khas jepang

Selera ternyata tidak mengenal bangsa. Ini terbukti dengan semakin menjamurnya berbagai jenis restoran asing di Indonesia. Mulai dari masakan Barat, India, Korea, Jepang, Thailand, hingga masakan Timur Tengah. Ketidakharmonisan hubungan antar negara tidak pernah menjadi penghalang bertemunya rasa di lidah. Salah restoran yang sangat popular saat ini adalah restoran masakan Jepang. Rupanya rasa makanan Jepang cukup mudah diterima oleh lidah Indonesia.
Cara pengolahan masakan itu bervariasi, dengan cara goreng, rebus, kukus, bakar atau panggang, bahkan disajikan mentah, tergantung jenis masakannya. Bahan-bahannya bisa terdiri dari segala jenis bahan baku seperti berbagai jenis daging, ikan, tofu, sayur-sayuran, dan bumbu-bumbu. Di negeri asalnya, penggunaan daging dan lemak babi cukup luas baik sebagai bahan utama maupun sebagai bahan tambahan. Tonkatsu dan tonjiru merupakan contoh jenis masakan berbahan utama babi, sedangkan jenis mi ramen hampir dapat dipastikan mengandung kaldu yang berasal dari tulang babi.
Bagaimana dengan restoran Jepang di Indonesia? Pada umumnya restoran Jepang di Indonesia menyesuaikan dengan konsumen mayoritas yang beragama Islam, sehingga tidak menghidangkan menu babi. Apakah dengan demikian masakan Jepang menjadi pasti halal untuk dikonsumsi? Tentunya tidak semudah itu. Masih banyak hal yang perlu dipertimbangkan untuk memilih masakan Jepang.
Kehalalan daging yang digunakan tentu menjadi perhatian penting. Apakah ayam dan daging sapi yang digunakan memang berasal dari supplier yang jelas kehalalannya?
Bagimana dengan menu ikan dan sayuran? Memang segala jenis ikan dan sayur-sayuran halal. Tapi kita sering lupa dengan bumbu-bumbu yang digunakannya. Ada dua jenis bahan tidak halal yang sangat umum digunakan dalam masakan Jepang, baik sebagai bumbu dalam campuran masakan atau sebagai campuran saus, yaitu sake dan mirin. Sebagai contoh, mirin digunakan sebagai bumbu dalam masakan mie Udon dan Rame, masakan daging sapi dan kentang Nikujaga, serta masakan ayam dan telur Oyako Donburi.
Sake digunakan dalam masakan bayam dan pasta wijen, masakan daging Sukiyaki serta maskan nasi Sushi Meshi. Sake dan mirin juga digunakan sebagai campuran saus marinasi ayam untuk masakan Yakitori dan campuran saus Teriyaki atau saus Tempura.
Sake, beras difermentasi
Sake adalah istilah umum untuk minuman beralkohol khas Jepang. Sake merupakan minuman hasil fermentasi yang diproduksi dari beras yang sudah disosoh (polished rice), dicuci, direndam air, dikukus, dan didinginkan dengan kandungan alkohol produk akhir sekitar 15 – 16 persen. Aromanya khas, rasanya sedikit asam dan manis. Dikenal sebagai rice wine dan sangat mirip dengan Chinese rice wine yang bernama shaosing chu.
Secara sederhana prosesnya adalah: beras yang sudah dikukus dicampur dengan koji, moto, dan air kemudian difermentasi selama sekitar 3 minggu. Produk akhir proses ini berupa sake dengan kandungan alkohol maksimum mencapai 20 persen. Satu ton beras sosoh dapat menghasilkan sekitar 3000 liter sake.
Koji adalah konsentrat enzim yang diperoleh dari pengembangbiakan jenis kapang Aspergillus oryzae pada beras kukus, sedangkan moto adalah yeast starter.
Sake merupakan minuman pergaulan di Jepang dan juga sering digunakan dalam ritual keagamaan Shinto. Jenis-jenis sake dapat dibedakan berdasarkan bahan baku beras yang digunakan dan ada tidaknya penambahan alkohol dari luar. Junmai-shu yang berarti pure rice wine adalah nama jenis sake yang dibuat dari beras yang minimum disosoh sebanyak 30 persen dan tanpa penambahan alkohol.
Mirin, lebih legit
Mirin adalah sejenis rice wine yang mirip dengan sake. Rasanya lebih manis dengan kandungan alkohol lebih rendah. Ada dua jenis mirin, yaitu hon dan shin mirin.
Mirin umum digunakan sebagai bumbu masak, dimana rasa manis merupakan rasa yang penting dalam masakan Jepang. Selain itu penggunaan mirin menambah cerah penampakan ikan panggang dan menghilangkan bau amis ikan.
Mirin juga digunakan sebagai teman menyantap sushi. Pada pembuatan saus Teriyaki dan saus Tempura, mirin dapat diganti dengan campuran sake dan gula dengan perbandingan 3:1.
Pada gaya masak Kansai, mirin digunakan setelah dipanaskan sebentar untuk menguapkan alkoholnya. Sedangkan pada gaya masak Kanto, mirin digunakan langsung tanpa perlakuan apapun sebelumnya. Pada perayaan tahun baru (O-shogatsu), mirin digunakan sebagai minuman seremonial (otoso).

Akashiyaki (明石焼き?) adalah nama penganan asal kota Akashi di Prefektur Hyogo, Jepang dari adonan telur, tepung terigu, dashi dan berisi potongan gurita yang dicelup ke dalam kuah dashi sebelum dimakan.
Akashiyaki sepintas lalu terlihat mirip takoyaki, berbentuk bola-bola lunak dengan diameter sekitar 3-5 cmzaman Edo menyebutnya sebagai Tamagoyaki dan konon merupakan cikal bakal takoyaki. yang sering tidak benar-benar bulat karena bagian bawah terdesak ke dalam akibat berat yang dimilikinya. Di kota Akashi, penduduk setempat yang sudah mengenal penganan ini sejak
Akashiyaki dianggap sebagai penganan unik khas kota Akashi. Makan akashiyaki (yang dijual dengan nama tamagoyaki) merupakan salah satu tujuan utama wisatawan yang datang berkunjung ke kota Akashi.

Perbedaan dengan takoyaki

Akashiyaki bertekstur lebih lunak dari takoyaki karena mengandung banyak telur dan digoreng dengan loyang berupa bulatan-bulatan cekung. Adonan juga mengandung bahan rahasia berupa tepung terigu tanpa gluten yang disebut jinko (沈粉?). Sewaktu digoreng, Akashiyaki dibolak-balik agar bulat dengan menggunakan sumpit dapur (saibashi) dan tidak memerlukan alat khusus seperti takotaki. Akashiyaki hanya berisi guritadashi. Tidak seperti takoyaki, akashiyaki tidak diolesi saus dan dimakan setelah dicelup ke dalam kuah. tidak seperti takoyaki di Osaka yang berisi gurita tapi masih ditambah berbagai macam isi. Akashiyaki dihidangkan di sepotong kayu bersama semangkuk kecil kuah

Piring dan loyang akashiyaki

Loyang untuk menggoreng dibuat dari perunggu berbentuk persegi panjang dengan bulatan-bulatan cekung sesuai jumlah akashiyaki yang akan dijual dalam satu set (biasanya 8-10 buah). Piring khusus untuk menghidangkan akashiyaki berupa talenan persegi panjang dari kayu yang sama luasnya dengan permukaan loyang yang dipakai. Piring mempunyai bagian depan yang lebih tinggi dari bagian belakang agar mudah kering setelah dicuci.
Tekstur akashiyaki yang lunak menyebabkan akashiyaki sulit diambil dari loyang (penggorengan) ke atas piring tanpa merusak bentuk. Sebagai pemecahannya, loyang ditutup dengan piring khusus akashiyaki dan dibalik sehingga berjajar dengan rapi di atas piring. Cara mengeluarkan akashiyaki dari loyang merupakan salah satu atraksi tersendiri.

Anpan (あんパン atau 餡パン?) adalah roti manis dengan isi selai kacang merah.
Roti bukanlah makanan yang biasa dimakan oleh orang Jepang sebelumnya, namun kini banyak jenis roti yang merupakan makanan khas Jepang, seperti : meron-pan, kurimu-pan, jamu-pan, koshian-pan, ogura an-pan, sakura an-pan, korone, dan lain-lain. Hal ini bisa jadi karena orang Jepang pandai dalam memperkenalkan tradisi makanan dari negara-negara lain dan mengadaptasinya agar sesuai dengan selera orang Jepang.
An-pan tercipta pada tahun 1874, oleh pemilik roti kimuraya di distrik Ginza Tokyo. awalnya Kimura Yasube'e, nama pemilik toko tersebut mencoba untuk membuat roti yang sesuai dengan selera orang Jepang. Kemudian dengan mengambil ide dari manju kukus yang merupakan makanan khas Jepang, didapatlah roti yang lembut, manis, mudah dimakan dan cocok pula dengan selera orang Jepang.

Bentō (弁当 atau べんとう?) atau o-bentō adalah istilah bahasa Jepang untuk makanan bekal berupa nasi berikut lauk-pauk dalam kemasan praktis yang bisa dibawa-bawa dan dimakan di tempat lain. Seperti halnya nasi bungkus, bentō bisa dimakan sebagai makan siang, makan malam, atau bekal piknik.
Bentō biasanya dikemas untuk porsi satu orang, walaupun dalam arti luas bisa berarti makanan bekal untuk kelompok atau keluarga. Bento dibeli atau disiapkan sendiri di rumah. Ketika dibeli, bentō sudah dilengkapi dengan sumpit sekali pakai, berikut penyedap rasa yang disesuaikan dengan lauk, seperti kecap asin atau saus uster dalam kemasan mini.
Ciri khas bentō adalah pengaturan jenis lauk dan warna agar sedap dipandang serta mengundang selera. Kemasan bento selalu memiliki tutup, dan wadah bentō bisa berupa kotak atau nampan segi empat dari plastik, kotak roti, atau kotak kayu kerajinan tangan yang dipernis. Ibu rumah tangga di Jepang dianggap perlu terampil menyiapkan bentō, walaupun bentō bisa dibeli di mana-mana. Di Indonesia, hidangan ala bento mulai dipopulerkan jaringan restoran siap saji Hoka-Hoka Bento sejak tahun 1985.
Bentō dengan lauk ikan salem
Chawanmushi (茶碗蒸し kukus mangkuk?) adalah makanan Jepangtelur ayam dan dashi yang dikukus di dalam mangkuk. Makanan ini dihidangkan bersama mangkuknya dan dimakan sebagai makanan pembuka. yang dibuat dari campuran
Di dasar mangkuk diletakkan penyedap rasa seperti daun mitsuba, jamur shiitake, biji ginkgo bilobakamaboko, udang, atau daging ayam. Campuran telur dan dashi dituangkan secara perlahan-lahan ke dalam mangkuk agar tidak terbentuk buih atau busa. yang sudah dikupas,
Cara membuat dan cara mengukus memerlukan perhatian khusus agar di dalam Chawanmushi yang sudah matang tidak ditemukan buih. Telur dicampur dengan dashi dengan cara dikacau dan tidak dikocok secara berlebihan. Tutup kukusan dialasi dengan kain dan harus direnggangkan sedikit sewaktu mengukus agar telur tidak menjadi terlalu keras.
Chawanmushi sudah dikenal di Jepang sejak zaman kuno. Makanan ini merupakan hidangan segala musim, disajikan dingin di musim panas atau sewaktu masih hangat di musim dingin. Tesktur Chawanmushi yang lembut seperti puding custard disenangi anak-anak dan orang tua.
Chawanmushi yang di dalamnya dicampur udon disebut Odamaki mushi (Odamaki udon).
Chawanmushi
Chanpurū (チャンプルー?) adalah masakan khas Okinawa berupa tumissayur-sayuran dengan telur ayam, tahu, atau sering ditambah daging babi kaleng (spam). Bumbu berupa garam dapur, kecap asin, dan sedikit merica. Salah satu jenis masakan chanpurū yang paling dikenal adalah Gōyā Chanpurū (orak-arik peria). Dalam bahasa Ryukyu, "chanpuru" berarti "campur aduk".
Di antara sayuran yang bisa dimasak sebagai chanpurū adalah peria, kol, bawang bombay, wortel, shiitake, tauge, dan kucai. Selain telur ayam, chanpurū sering memakai daging babispam) dan ikan tuna dalam kaleng. Selain itu somen dan tahu sering menjadi bahan utama chanpurū. Garam dan kecap asin tidak lagi ditambahkan bila memasak chanpurū ditambah daging babi kaleng yang rasanya sudah asin. (daging babi kaleng atau
Ada berbagai penjelasan tentang asal-usul nama masakan ini. Penjelasan yang sering dikutip mengatakan kata "chanpurū" berasal dari kata "campur" dalam bahasa Indonesia.[1] Walaupun demikian, perbendaharaan kata bahasa Jepang mengenal istilah "champon" yang berarti "mencampur" atau "masakan campur aduk".[2] Dalam bahasa Mandarin, "chān" () juga berarti "mencampur".
Orang Okinawa sangat bangga dengan budaya Ryukyu yang campur-aduk dengan kebudayaan asing dari Asia Tenggara, Cina, dan Amerika. Budaya Okinawa disebut orang Okinawa sebagai budaya chanpurū (chanpurū bunka).

Variasi

Dari nama bahan utama tercipta berbagai jenis masakan champurū.
  • Gōyā chanpurū (orak-arik peria)
Bahan utama adalah peria dengan tambahan tahu, daging babi kaleng (spam) atau ikan tuna dalam kaleng untuk mengatasi rasa pahit peria. Tahu yang digunakan adalah tahu Okinawa yang keras dan tidak mudah hancur.
  • Tamanā chanpurū (orak-arik kol dan bawang bombay)
Bahan utama adalah bawang bombay dan kol, dan biasanya tidak memakai tahu atau daging babi.
  • Māminā chanpurū (orak-arik tauge)
Bahan utama adalah tauge, dan biasanya tidak memakai tahu atau daging babi.
  • Papayā chanpurū (orak-arik pepaya)
Bahan utama adalah pepaya muda yang diiris seukuran batang korek api.
  • Nābērā chanpurū (orak-arik belustru)
Bahan utama adalah belustru muda yang ditumis dengan tahu dan daging babi.
  • Yasai chanpurū (orak-arik sayuran)
Aneka ragam sayuran seperti tauge, wortel, shiitake ditumis dengan tahu dan daging babi.
  • Tōfu chanpurū (orak-arik tahu)
Bahan utama adalah tahu dengan sedikit sayuran, dan biasanya tidak memakai daging babi.
Fū chanpurū
Bahan utama adalah fū (makanan kering dari gluten) yang ditumis dengan sayuran setelah dilunakkan dengan air atau kocokan telur ayam.
  • Sōmin chanpurū (orak-arik somen)
Setelah direbus setengah matang, somen ditumis dengan kucai, daun bawang. Masakan jenis ini sering juga ditambahkan daging babi atau ikan tuna dalam kaleng.
  • Irichi
Irichi adalah masakan serupa chanpurū. Bila menggunakan kombu maka disebut Kūbu Irichi.
Gōyā Chanpurū
Champon (ちゃんぽん?) (chanpon) atau Nagasaki champon adalah miNagasaki. Champon merupakan perkembangan dari mi rebus ala Tionghoa. Bahan berupa daging babi, makanan laut yang sedang musim, kamaboko, dan sayur-sayuran (kubis, tauge) ditumis dengan lemak babi. Air kaldu dari campuran tulang babi atau tulang ayam ditambahkan untuk merebus mi hingga empuk. Di Korea masakan serupa champon disebut Jjamppong (짬뽕), dan dimasak dengan tambahan cabai. Di Okinawa, champon berarti sepiring nasi dengan lauk-pauk di atasnya. rebus khas kota
Nagasaki champon
Dalam bahasa Jepang, kata "champon" berarti memasak campuran berbagai bahan makanan, atau mencampur dua jenis bahan atau hal yang berbeda. Kata ini berasal dari bahasa Tionghoa: 攙烹chānpēng).[1] Selain itu, orang juga dikatakan berbahasa champon bila berbicara dalam bahasa Jepang dicampur bahasa asing. Bagi orang Kyushu, istilah "champon" berarti campuran berbagai jenis minuman keras, atau mencampur berbagai macam lauk menjadi satu.[2] Selain itu, kata "champon" kemungkinan berasal dari dialek Fujian, "shapon" yang berarti makan.[3] (

[sunting] Asal-usul

Pada tahun 1892, juru masak Chen Pingshun yang waktu itu berusia 19 tahun meninggalkan kampung halaman di Provinsi Fujian untuk mencari uang di Nagasaki. Setelah tinggal di Nagasaki selama dua tahun pecah Perang Sino-Jepang Pertama. Setelah bekerja keras dan menjalani kehidupan yang sulit, uang hasil menabung selama 7 tahun dipakainya sebagai modal membuka rumah makan bernama Shikairou.[4]
Minatnya membantu orang yang sedang kesulitan membuat Chen bersedia mengurusi mahasiswa dari Dinasti Qing yang sedang belajar di Nagasaki. Untuk mereka, Chen menciptakan masakan baru yang bergizi dan murah. Idenya diambil dari masakan mi kuah daging (湯肉絲麺) asal tempat kelahirannya di Fujian. Mi dimasak di atas wajan berisi kaldu encer daging babi dicampur sayuran berupa shiitake, rebung, dan daun bawang. Chen mengubah resep tersebut dengan memakai kuah kaldu yang lebih kental, daging dan sayuran yang banyak, dan mi ala Jepang yang lebih kenyal.[4] Bahan yang digunakannya adalah hasil laut yang sedang musim dari perairan sekitar Nagasaki seperti udang kecil dan tiram. Masakan mi ciptaannya disebut Shinaudon (udon Cina), dan nantinya menjadi cikal bakal champon.

Kimono, Pakaian Tradisional Jepang

 Kimono
Kimono
Kimono adalah pakaian khas/tradisional bangsa Jepang. Arti kimono itu sendiri adalah baju atau sesuatu yang dikenakan. Bentuk baju kimono seperti huruf “T”, berlengan panjang dan berkerah.
Baju kimono untuk wanita berbentuk baju terusan sedangkan kimono pria berbentuk setelan. Kerah bagian kanan harus berada dibawah kerah bagian kiri. Sabuk kain/Obi dililitkan pada bagian perut/pinggang dan diikat dipunggung. Alas kaki saat memakai kimono adalah zori atau geta.
Kimono Kimono
Pada saat sekarang ini, kimono lebih sering digunakan wanita pada acara istimewa, sedangkan pria lebih sering menggunakan kimono pada acara pernikahan, upacara minum the dan acara formal lainnya.
Pemilihan kimono haruslah berhati-hati dan harus disesuaikan dengan acara yang akan dihadiri. Perlu adanya pengetahuan yang mendalam mengenai simbolisme dan isyarat yang terkandung pada kimono. Ada beberapa jenis kimono yang dapat disesuaikan dengan fungsi dan tingkat formalitasnya.
Kimono  Kimono
KIMONO WANITA:
  • Kurotomesode
Tomesode adalah jenis kimono yang paling formal untuk wanita yang sudah menikah dan berwarna hitam. Pakaian ini digunakan untuk menghadiri resepsi pernikahan dan acara resmi lainnya.
Ciri khas kurotomesode adalah bermotif indah pada bagian bawah sekitar kaki depan dan belakang. Ada lambang keluarga yang terletak pada tiga sisi yaitu punggung, dada bagian atas kanan dan kiri, dan bagian belakang lengan.
  • Irotomesode
Pakaian ini terbuat dari tomesode yang berwarna. Kimono jenis ini dipakai oleh wanita dewasa yang sudah/belum menikah. Pemilihan motif lambang dapat disesuaikan dengan jenis acaranya.
Kimono irotomesode dipakai untuk menghadiri acara yang tidak memperbolehkan tamu untuk datang memakai kuritimesode, misalnya resepsi di istana kaisar.
  • Furisode
Furisode adalah kimono paling formal untuk wanita muda yang belum menikah. Bahannya berwarna cerah dengan motif yang mencolok diseluruh bagian kain.
Ciri furisode adalah bagian lengan yang sangat lebar dan menjuntai ke bawah. Pakaian ini digunakan saat menghadiri upacara seijin shiki, resepsi pernikahan teman, upacara wisuda atau hatsumode.
  • Iromuji
Iromuji adalah kimono semiformal, tetapi bisa dijadikan kimono formal bila iromuji memiliki lambang keluarga(kamon). Iromuji terbuat dari bahan yang berwarna lembut seperti pink, biru muda, atau kuning dan warna lembut lainnya.
Iromuji dapat digunakan pada acara pernikahan jika jumlah lambang keluarga ada lima. Tetapi jika hanya satu, pakaian ini dapat digunakan saat acara minum teh.
  • Tsukesage
Tsukesage adalah kimono semiformal yang digunakan oleh wanita yang sudah/belum menikah. Kimono jenis ini tidak memiliki lambang keluarga dan diperbolehkan untuk menghadiri upacara minum teh yang tidak begitu resmi atau perayaan tahun baru.
  • Komon
Komon adalalah kimono santai untuk wanita yang sudah/belum menikah. Ciri khas kimono jenis ini adalah bermotif sederhana dan berukuran kecil-kecil yang berulang. Komon dikenakan untuk menghadiri pesta reuni, makan malam, bertemu dengan teman atau menonton pertunjukan digedung.
  • Tsumugi
Tsumugi adalah kimono yang dipakai untuk bersantai dirumah dan dapat digunakan untuk wanita yang sudah/belum menikah. Kimono jenis ini dapat digunakan saat keluar rumah seperti berbelanja atau berjalan-jalan. Bahan yang digunakan adalah katun ataupun sutra kelas rendah yang tebal dan kasar.
  • Yukata
Yukata adalah kimono yang dipaaki saat musim panas. Bahannya terbuat dari kain katun yang tipis  tanpa pelapis.
KIMONO PRIA:
Kimono pria terbuat dari bahan berwarna gelap seperti hijau tua,coklat tua, biru tua, hitam.
  • Montsuki
Montsuki digunakan bersama hakama dan haori cocok dipakai saat menghadiri upacara sangat resmi dan dapat juga dipakai sebagai pakaian pengantin pria tradisional.
  • Kinagashi
Kimono jenis ini adalah jenis pakaian yang dapat digunakan sehari-hari, untuk bersantai ataupun keluar rumah.  Kinagashi tidak dihiasi dengan lambang keluarga.

Festival Paling Aneh Di Berbagai Belahan Dunia


El Colacho : Festival Melompati Bayi (Spanyol)

Dalam perayaan festival Katolik Corpus Christi, laki-laki dewasa melompati bayi yang baru lahir, dengan izin orang tua penuh. Mengenakan menakutkan, samar-samar Elvis-seperti kostum dan memegang cambuk dan tongkat, orang-orang berusaha untuk "membersihkan" bayi-bayi yang jahat. Jelas, serampangan melompati mereka adalah cara terbaik untuk mencapai hal ini. Kota telah mengamati praktek yang aneh (yang disebut El Colacho) sejak 1620, dan setiap penonton yang tampaknya membutuhkan eksorsisme cepat ditarik ke dalam acara, serta - jadi terlihat normal, demi Tuhan! Dan meninggalkan bayi dengan pengasuh.



Hadakamatsuri: Festival Telanjangl (Jepang)

Hadakamatsuri - telanjang Festival - adalah jenis festival Jepang di mana para peserta mengenakan pakaian jumlah minimum, biasanya hanya cawat Jepang (disebut fundoshi), kadang-kadang dengan mantel happi pendek, dan sangat jarang benar-benar telanjang. Apa pun pakaian, itu dianggap berada di atas vulgar, atau sehari-hari, pakaian, dan pada tingkat suci pakaian kuil Jepang. Telanjang festival yang diselenggarakan di puluhan tempat di seluruh Jepang setiap tahun, biasanya di musim panas atau musim dingin. Tersembunyi di suatu tempat di tengah-tengah semua orang dalam cawat adalah salah satu laki-laki telanjang sepenuhnya. Menyentuhnya diyakini membawa keberuntungan dan kebahagiaan.


Up Helly-Aa: Festival Api (Shetland Islands)

Sebagai penghormatan ke pulau-pulau 'Viking Past, Up Helly-Aa ( "End of the Holy Days"), festival api yang diselenggarakan di Shetland setiap tahun di tengah musim dingin untuk menandai akhir musim Yule. Festival melibatkan prosesi hingga seribu guizers, dan berpuncak dengan pembakaran 32-ft. replika kapal Viking . Karena sering-flamboyan kostum dan kuantitas besar laki-laki berpakaian seperti perempuan, ia telah menerima nama lelucon 'banci selasa'.



Festival Prasmanan Monyet (Thailand)

Setiap tahun, semua provinsi sekitar 600 monyet diundang untuk makan buah-buahan dan sayuran selama perayaan tahunan diadakan untuk menghormati Rama, pahlawan Ramayana, yang, konon, dihargai sahabat dan sekutu, Hanuman sang Raja Monyet. Penyelenggara prasmanan monyet tahunan menggunakan lebih dari 3.000 kg buah-buahan dan sayuran untuk festival.



Holi:Festival Berwarna (India)

Holi, juga disebut Festival Berwarna, adalah festival musim semi populer Hindu di India, Guyana, dan Nepal. Pada hari kedua, yang dikenal sebagai Dhulhendi, orang menghabiskan hari dengan melempar bubuk dan air berwarna satu sama lain. Musim musim semi, di mana perubahan cuaca, yang diyakini adalah virus menyebabkan demam dan dingin. Demikian, bermain-main melempar bubuk berwarna memiliki signifikansi obat: warna secara tradisional terbuat dari Neem, Kumkum, Haldi, Bilva, dan tanaman obat lain yang diresepkan oleh dokter Ayurvedic.



Cheese Rolling Festival (England)

Walaupun kedengarannya aman (dan sedikit konyol), keju-bergulir sangat berbahaya. Menjalankan full-tilt menuruni bukit sangat curam di belakang berputar kencang roda 7-pon keju dapat hampir-hampir mematikan. Bahkan, polisi telah berusaha untuk melarang acara tersebut, tetapi para peserta telah menolak untuk mematuhi larangan. Pria dan roda keju mereka tidak dapat dipisahkan dengan mudah, jelas. Jadi apa yang terjadi selama keju bergulir? Sederhana: keju diatur ke bergulir, dan pembalap zoom menuruni bukit setelah keju. Namun, karena keju dapat mencapai kecepatan hingga 70 mph, hal itu jarang terjadi bahwa seseorang menangkap keju. Pertama memenangkan dasar keju. Mulia.



Maslenitsa: free-for-all boxing match (Russia)

Di negara-negara Ortodoks, minggu sebelum Pra-Paskah ditandai dengan serangkaian perayaan, termasuk gratis-untuk-semua pertandingan tinju di mana tidak ada aturan. Dalam abad yang lalu, perjuangan hanya berakhir ketika berpartisipasi berlumuran darah dan kehilangan pakaian.



Tunarama: the Tuna Tossing Festival (Australia)

Tunarama Festival yang diadakan di Port Lincoln, di ujung Semenanjung Eyre, di atas Australia Day (26 Januari). Ketika festival dimulai pada tahun 1962, itu dimaksudkan untuk mempromosikan industri perikanan tuna muncul di Port Lincoln. Ikan tuna sekarang menjadi salah satu kota industri terbesar dan Australia pabrik pengalengan ikan tuna terbesar yang terletak di sana. Acara utama festival adalah kompetis melemparkan tuna. Ex-Olimpiade pelempar palu, Sean Carlin, memegang rekor untuk pelemparan terpanjang di 37,23 meter ditetapkan pada tahun 1998.



Roswell UFO Festival (USA)

Roswell UFO Festival merayakan ulang tahun "Insiden Roswell," ketika sebuah UFO itu dikatakan telah jatuh ke dasar militer di dekatnya. Menampilkan pakar, penulis, peneliti, dan dosen membedah insiden yang terkenal, perayaan juga akan olahraga alien parade, lomba kostum alien, dan alien naik balon udara panas.


La Tomatina (Spain)

Pada akhir Agustus, ribuan orang memukul-mukul satu sama lain dengan lebih dari 250 lbs. tomat dalam rentang waktu 60 menit dalam suatu acara sederhana digambarkan sebagai tomat terbesar di dunia melawan. Setiap tahun, lebih dari 30.000 wisatawan datang ke Bunyol untuk festival ini. Aturan perilaku menjaga perayaan dari menjadi perkelahian yang lebih berbahaya.

Macam-macam Festival di Jepang

Festival di Jepang merupakan acara tradisional yang berhubungan dengan perayaan tertentu. Beberapa festival mempunyai asal-usul dari festival yang juga awalnya ada di China tetapi telah mengalami perubahan dramatis dengan tradisi lokal.

Beberapa malahan benar-benar berbeda yang tidak memiliki kemiripan dengan festival “aslinya” walaupun memiliki nama dan waktu yang sama. Terdapat pula beberapa festival lokal (seperti Tobata Gion) yang bahkan tidak diketahui di luar prefektur lain.

Masyarakat Jepang pada umumnya tidak merayakan Tahun Baru China~karena telah tergantikan oleh Tahun Baru Barat pada akhir abad 19~, tetapi warga China yang bertempat tinggal di Jepang masih merayakannya. Di Yokohama, terdapat pecinan terbesar di Jepang, dimana turis dari segala penjuru di Jepang datang untuk menikmati perayaan tersebut. Hal ini juga mirip dengan festival lampion di pecinan Nagasaki.

Festival biasanya terdiri dari satu atau dua acara utama, dengan stan-stan makanan, pertunjukan, permainan untuk membuat pengunjung tetap betah dan terhibur.

Matsuri

Matsuri berarti festival atau hari raya. Di Jepang, festival biasanya disponsori oleh kuil ataupun diadakan bukan yang bersifat kepercayaan. Biasanya setiap daerah memiliki setidaknya satu matsuri di akhir musim panas atau awal musim gugur, kadang berhubungan dengan panen.

Kita dapat menemukan stan-stan di sekitar matsuri yang menjual souvenir atau makanan seperti takoyaki, atau yang menyediakan permainan seperti menangkap ikan koki. Selain itu ada juga kontes karaoke, pertandingan sumo, dan hiburan-hiburan lain yang tersedia.

Berikut ini beberapa festival yang terkenal di Jepang

Festival Nasional
Seijin Shiki
Seijin Shiki (Senin kedua di bulan Januari)
Coming of Age Day

Hinamatsuri (3 Maret)
Boneka Hina
Festival boneka ini mempunyai nama lain seperti Sangatsu Sekku (Festival Bulan 3), Momo Sekku (Festival Persik), Joshi no Sekku (Festival Gadis). Dikenal sebagai Festival Persik karena persik bersemi di awal musim semi dan disimbolkan sebagai keberanian dan kecantikan feminin. Anak perempuan memakai kimono terbaik mereka dan mengunjungi rumah temannya. Di rumah-rumah di tempatkan panggung berisi hina ningyo (boneka hina, sederet boneka yang mewakili kaisar, permaisuri, pelayan, dan musisi yang memakai pakaian kuno) dan sekeluarga merayakan dengan makanan spesial Hishimochi dan Shirozake.

Hanami (akhir bulan Maret hingga awal April)
Sakura
Berbagai festival bunga diadakan oleh kuil Shinto selama bulan April. Darmawisata dan piknik dilakukan untuk menikmati bunga, terutama bunga Sakura. Di beberapa tempat, menikmati bunga diadakan berdasarkan hari-hari tertentu yang tetap. Even ini yang paling populer selama musim semi selama bulan April

Tanabata (7 Juli)
Tanabata
Disebut juga festival bintang. Aslinya berasal dari legenda China yang menceritakan dua bintang penenun (Vega) dan pengembala domba (Altair) dimana mereka berdua pasangan kekasih yang hanya dapat bertemu sekali dalam setahun pada malam ke-7 bulan ke-7 dimana tidak ada hujan dan banjir di Milky Way pada hari itu. Dinamakan Tanabata setelah gadis penenun dari legenda Jepang dipercayai dialah yang membuat baju untuk dewa-dewa. Warga Jepang biasanya menuliskan permohonan dan harapan asmara di selembar kertas berwarna dan menggantungkannya di ranting bambu bersamaan dengan ornamen-ornamen kecil.

Shichi-Go-San (15 November)
Shichi-go-san
Festival untuk anak-anak berusia 3, 5, 7 tahun
Anak laki-laki berusia lima tahun atau tujuh tahun serta anak perempuan berusia tiga tahun dibawa ke kuil setempat untuk berdoa demi keselamatan dan hidup yang sehat. Festival ini dilakukan karena ada kepercayaan bahwa anak-anak pada usia tertentu bisa mendapat kesialan sehingga diperlukan perlindungan. Anak-anak biasanya mengenakan pakaian tradisional untuk acaranya dan setelah mengunjungi kuil banyak orang membeli chitose-ame (permen seribu tahun) yang dijual di kuil.

O-misoka (31 December)
Kanji Cinta
Masyarakat Jepang membersihkan rumah (Osoji) untuk menyambut tahun baru dan untuk menghilangkan pengaruh tidak baik. Banyak warga yang mengunjungi kuil Buddha untuk mendengarkan bel berbunyi sebanyak 108 kali ketika malam hari (joya no kane). Hal ini dilakukan untuk mengumumkan bahwa tahun lama telah dilewati dan tahun yang baru telah datang. Alasan kenapa dibunyikan 108 kali adalah karena penganut Buddha percaya manusia digoda 108 macam hasrat dan nafsu duniawi (bonno). Dengan tiap kali bunyi, satu hasrat dihilangkan. Menjadi adat juga bahwa memakan toshikoshi koba (mie melewati tahun) diharapkan bahwa seluruh keluarga mendapat keberuntungan layaknya sepanjang mie yang panjang.

Oshogatsu (1-3 Januari, walaupun perayaan juga dilakukan selama bulan Januari)
Oshogatsu
Tahun Baru adalah even tahunan yang paling penting dan terperinci di Jepang. Sebelum Tahun Baru, rumah dibersihkan, hutang-hutang dibayarkan, dan osechi (makanan yang di baki untuk Tahun Baru) disiapkan ~atau dibeli. Osechi adalah makanan tradisional yang dipilih karena warna keberuntungan, bentuk, atau nama yang menarik dengan harapan untuk mendapatkan keberuntungan dalam berbagai segi kehidupan selama tahun yang baru. Rumah didekorasi dan hari libur dirayakan dengan berkumpulnya keluarga, mengunjungi kuil, dan menghubungi sanak famili dan sahabat. Hari pertama dari tahun (ganjitsu) biasanya dilewatkan bersama keluarga.

Setsubun
Setsubun
Memasuki tiap musim (musim semi,musim panas,musim gugur,musim dingin)

Ennichi
Ennichi
Pekan raya kuil (hari raya yang berkaitan dengan Kami dan/atau Buddha)

4 musim di Jepang

Negeri Jepang mempunyai empat musim yang jelas batasnya.
Dua dari pemandangan yang paling indah di Jepang adalah ketika bunga sakura bermekaran di musim semi dan dedaunan berubah menjadi warna-warni merah, jingga, dan kuning yang mempesonakan pada musim gugur.
Rakyat Jepang menikmati petanda-petanda perubahan musim dan mengamati perkembangannya dengan memperhatikan laporan cuaca, yang menampilkan peta di mana sakura sedang bermekaran pada musim semi dan dedaunan musim gugur sedang indah-indahnya.

Ujung utara dan selatan Jepang mempunyai iklim yang sangat berbeda. Misalnya, pada bulan Maret, orang dapat berjemur sinar matahari di wilayah selatan atau bermain ski di wilayah utara!

Quote:


1. MUSIM SEMI


Ada kebahagiaan tersendiri yang muncul setiap musim semi datang di Jepang. Suhu dingin mulai beranjak menghangat, lalu bunga-bunga pun mulai bermekaran indah, mulai dari ume, sakura, hingga tulip akan mewarnai penjuru-penjuru Jepang dengan warna-warninya. Yang juga tidak kalah penting dari hadirnya musim semi adalah tibanya liburan sekolah sekaligus pergantian tahun ajaran di sistem pendidikan Jepang.


Spoiler for musim semi





















2. MUSIM PANAS


Musim panas di Jepang berlangsung dari bulan Juni hingga Agustus.Dimana - mana masyarakat mengadakan Omatsuri ( festival ) musim panas.Festival musim panas disebut Tanabata.

Malam hari yukata (kimono musim panas) lengkap dengan uchiwa (kipas) dan geta (sandal kayu) adalah busana yang tepat untuk pergi ke festival (natsu matsuri) di Kuil.

Festival ini diramaikan dengan pedagang-pedagang yang berderet di sepanjang jalan yang diterangi ratusan chuochin (lampion). Para pedagang tersebut menjual berbagai macam mainan, omen (topeng), furin (klintingan), penganan seperti wataame (permen kapas) dan kakigori (es serut) atau makanan semacam takayoki (gurita bakar), yakitori (sate ayam), okonomiyaki (sejenis martabak telur yang diisi sesuka kita), yakitomorokoshi (jagung bakar), dll. Selain itu, festival juga diramaikan dengan berbagai permainan tradisional. Di antaranya, yang paling popular adalah kingyo sukui (menangkap ikan mas). Namun, musim panas tisak terasa lengkap tanpa adanya hanabi taikai (festival kembang api).


Hanabi taikai adalah pamandangan yang khas ketika malam hari di musim panas. Tiap tahjun, antara bulan Juli dan Agustus, festival hanabi diselenggarakan di tiap-tiap daerah di seluruh Jepang.


Spoiler for musim panas










3. MUSIM GUGUR


Ketika daun-daun di pohon sudah mulai kering dan berjatuhan. Ketika suara serangga yang biasa terdengar di sebelah rumah sudah tidak lagi terdengar. Dan ketika pepohonan taman kota sudah berganti warna menjadi kuning kemerahan. Hal ini adalah pertanda musim gugur.


Musim gugur yang sangat dinanti banyak orang, karena udaranya sejuk, badan terasa segar setiap saat. Terik matahari pun tidak begitu panas dan udara juga tidak begitu dingin. Sama halnya pada saat musim semi, dua musim yang selalu dinanti-nantikan.


Musim gugur di Jepang, banyak hal unik yang dapat kita nikmati keindahannya. Kouyou , Momiji , atau daun merah yang indah menawan merupakan satu dari sekian banyak daya tarik musim gugur. Tidak hanya itu, di Jepang, ada banyak event yang menjadi ciri khas musim gugur. Makanan tradisional pun banyak disuguhkan ketika musim gugur.

[/B]

Spoiler for musim gugur













4. MUSIM SALJU


Musim dingin, sudah pasti SALJU yang sangat dingin.. minta ampun..Suhunya bisa sampe minus kalo malamnya. Di Jepang, biasanya mandi dan berendam di bak air panas, namanya Ofuro. Mau musim apapun..orang jepang jarang mandi air dingin. Di musim dingin, orang akan sangat suka untuk masuk ke Ofuro..


Spoiler for musim salju